Pesantren AL-Mustamiriyah Kenalkan Produk Kecantikan Kekinian dengan Brand 'Ar-Rahmah'

Wednesday, April 06, 2022


PATI - Peran pondok pesantren bervariasi sejak berdirinya lembaga pendidikan ini. Pesantren tidak lagi terbatas pada lembaga pendidikan berbasis agama. Peran pesantren sebagai kekuatan pendorong pembangunan ekonomi daerah dan basis keterampilan para santri semakin berkembang.

Dengan kemajuan teknologi saat ini, mau tidak mau pesantren harus beradaptasi dengan kemajuan zaman dan terus berinovasi. Salah satu contoh nyata adalah tumbuhnya minat berwirausaha yang mulai dan dipraktikkan di sebagian besar pesantren saat ini.

Semangat kewirausahaan yang terlihat di pondok pesantren harus terus didorong agar generasi santri di masa depan tidak bergantung pada donatur. Hal ini sejalan dengan imbauan Menteri Agama (Menag) RI H Yaqut Chollil Qoumas, yang menargetkan ribuan pondok pesantren yang sudah mandiri secara ekonomi pada tahun 2024.

Kemandirian Pondok Pesantren merupakan program prioritas Kementerian Agama (Kemenag) Indonesia untuk memberdayakan seluruh pondok pesantren di Indonesia. Menag juga memberikan permodalan dan dukungan kepada pesantren mulai dari manajemen produksi hingga pemasaran produk. Wajar kiranya para pengurus pesantren menyambut hangat gagasan ini demi mewujudkan kemandirian pesantren.

Salah satu kisah inspiratif tentang kemandirian pesantren datang dari wilayah Sukolilo, Pati, Jawa Tengah. Terdapat Pondok pesantren takhfizul qur'an (PPTQ) yakni PPTQ AL-MUSTAMIRIYAH Sukolilo yang memiliki target mandiri secara perekonomian di daerah ini. Sumber penghasilannya adalah menjual produk alat mandi yang terbuat dari buah zaitun. Dimulai dengan sabun mandi, sampo, dan pasta gigi.

Nama produknya adalah Ar-Rahmah. Ar-Rahmah sendiri merupakan brand yang digunakan untuk mengcover beberapa produk kecantikan. Saat ini, seri Ar-Rahmah Zaitun hanya memiliki produk kecantikan berupa perlengkapan mandi. Namun ke depan, seri Ar-Rahmah Zaitun juga akan meluncurkan produk kosmetik.

Mengusung slogan sebagai produk investasi kecantikan jangka panjang sejalan dengan alasan memilih produk ini, yaitu aman digunakan dalam jangka panjang dan tidak menimbulkan efek ketergantungan. Ar-Rahmah sendiri merupakan brand kecantikan yang telah tersertifikasi dan terbukti aman untuk digunakan semua orang.

Salah satu hal menarik dari produk Ar-Rahmah sendiri adalah bagi hasil keuntungan dari penjualan produk. Menurut penggagas brand Ar-Rahmah, Achmad Soewandy, keuntungan dari hasil penjualan yang didapat akan dibagi dua. Sebesar 60% menjadi hak dari pondok pesantren dan sisanya 40% digunakan untuk biaya operasional para karyawan yang ikut memasarkan produk Ar-Rahmah.

Secara tidak langsung, bisa disebut Ar-Rahmah sendiri adalah salah satu contoh terobosan baru Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP). Menurut Achmad Soewandy pula, pesantren ke depannya diharapkan bisa dan harus terbuka dengan pihak luar. Ia telah mencotohkan dari produk Ar-Rahmah yang bekerja sama dengan pabrik professional dan semua produknya sudah BPOM dan halal.

Ia juga menambahkan bahwasanya jikalau pesantren ingin mengurus perorangan atau lembaga, mungkin akan menemui kesulitan ketika pengurusan BPOM. Oleh karena itu, supaya produk pesantren bisa go publik, mau tidak mau harus kerjasama dengan perusahaan professional yang memang punya satu visi dan misi mengembangkan pesantren.

Selain produk cosmetics, saat ini brand Ar-Rahmah masih dalam persiapan lauching website. Jadi nantinya para pelanggan pun bisa langsung membeli produknya di website tersebut. Nama webnya sendiri adalah arrahmahshop.com yang sudah jadi dan tinggal peyempurnaan. Achmad Soewandy juga meminta do'anya semoga semua yang ia upayakan dalam mengembangkan pesantren bisa dimudahkan dan disegerakan.

Tentu saja, apa yang dimula Ar-Rahmah harus ditiru oleh pesantren lain juga. Ar-Rahmah sendiri hanyalah salah satu contoh kecil bagaimana ide kemandirian pesantren dapat diwujudkan dalam praktik. Mengutip Gus Yaqut, pesantren memiliki tiga tugas utama: pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan.

Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Menurutnya, pendidikan dan dakwah ibarat 'kolam kecil' bagi pesantren. Sementara itu, pemberdayaan ekonomi merupakan 'kolam besar'.

Dengan mandiri dan berdaya secara ekonomi, pesantren dapat menghidupi diri sendiri, mengembangkan sarana, prasarana dan mensejahterakan masyarakat sekitar. Citra pesantren yang hidup hanya dari dana donatur dan Wali Santri kini sudah bisa dihilangkan. Maka tidak diragukan lagi bahwa pesantren adalah sistem yang rahmatan lil alamin.

Semoga apa yang Brand Ar-Rahmah mulai dan laksanakan dapat ditiru dan dilanjutkan di pondok pesantren lainnya. Meskipun sumber kemandirian berbeda, pesantren lain harus dapat menemukan usaha yang paling cocok dan sesuai kemampuan mereka sendiri.

Apabila program kemandirian ini sudah menjadi semangat bersama di banyak pesantren yang ada, bukan tidak mungkin citra dan marwah pesantren akan semakin terangkat dengan sendirinya. Dan bukan tidak mungkin kebanyakan pesantren akan semakin optimis menjadi salah satu penggerak sekaligus daya ungkit bagi perekonomian nasional. (*) 

Dikutip dari jurnalindo.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »