Angka Stunting di Kudus Turun 2,92 Persen

Wednesday, April 22, 2020
UKUR: Petugas kesehatan tengah melakukan pengukuran tinggi bayi.
KUDUS - Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus mengumumkan angka stunting di Kota Kretek tahun ini mengalami penurunan yang cukup banyak dari tahun sebelumnya. Pihaknya menghitung penurunan angka stunting di Kudus tahun 2020 berkurang sebanyak 2,92 persen.

Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Muslimah menyebut hasil timbang serentak yang dilakukan pihaknya di seluruh desa di Kota Kretek bulan Februari 2020 lalu. Diketahui 5,17 persen balita di Kudus mengalami permasalahan gizi stunting.

"Total balita di Kudus ada 68.966, yang mengkuti kegiatan timbang serentak ada 60.638 balita atau 87,9 persen. Dari timbang serentak itu diketahui sekitar 3.143 atau 5,17 persen diantaranya mengalami stunting," terang Muslimah, belum lama ini.

Dibanding tahun sebelumnya, lanjut dia, angka stunting tahun ini mengalami penurunan yang cukup besar yakni sebesar 2,92 persen. Dari sebelumnya di tahun 2019 sebesar 8,09 persen menjadi 5,17 persen.

Diakui wanita berparas ayu itu, penurunan angka stunting tahun ini  melampaui dari target yang ditetapkan pihaknya sebesar 2 persen. "Kemarin kami mentargetkan turun dua persen jadi 6,09 persen. Syukur hasilnya lebih dari itu," tambah Muslimah.

Menurutnya, kasus stunting bukan semata-mata disebabkan faktor ekonomi. Tetapi lebih ke pola asuh orang tua dalam memberikan makanan bergizi pada buah hati tercintanya.

"Mengajak anak untuk gemar makan sayur dan ikan memang gampang-gampang susah. Di sini peran aktif dan kreatifitas orang tua diuji," kata dia.

Diakuinya merubah mindset dan pola asuh orang tua dalam memberikan asupan gizi balita bukan hal yang mudah. Butuh waktu yang lama dan tentunya harus diiringi dengan kesadaran dari orang tua balita.

Terkait sebaran kasus stunting di Kudus, Muslimah merinci Kecamatan Dawe dan Kecamatan Undaan menjadi daerah dengan kasus stunting tertinggi. Dengan angka stunting sebesar 10,48 persen dan 9,69 persen. Sementara kecamatan dengan angka stunting terkecil ada di Kecamatan Jati dan Kota, sebesar 1,42 persen dan 2,46 persen.

Menurutnya, untuk menuntaskan kasus stunting dibutuhkan adanya kesadaran masyarakat. Utamanya keseriusan orang tua dalam memenuhi asupan makanan bergizi secara kontinyu pada balitanya.

Meski begitu, Muslimah menegaskan angka stunting di Kudus lebih rendah dari target Nasional dan Jawa Tengah. Dimana target Nasional kasus stunting sebesar 24,1 persen dan Jawa Tengah sebesar 20 persen.

Hal ini yang kemudian membuat pihaknya tetap optimis akan mengentaskan permasalahan gizi masyarakat ini. Terlebih setelah adanya komitmen konvergensi stunting yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kudus beberapa waktu lalu. Pihaknya optimis permasalahan stunting bisa segera ditangani dan angkanya bisa ditekan seminimal mungkin.

"Ayo kita bersama-sama mengentaskan stunting. Agar generasi kita selanjutnya, menjadi generasi yang cerdas dan unggul," tuturnya dia.

Adapun caranya dengan penerapan pola asuh yang baik, memenuhi asupan gizi sesuai standar Pemenuhan Makanan Bayi dan Anak (PMBA), perbaikan sanitasi dan akses air bersih. (mia/gus)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »