Unggulkan Ecobrick, Menuju Adiwiyata Provinsi Jateng

Monday, February 10, 2020
BOTOL BEKAS: Para siswa sedang menyiapkan bahan ecobrick, dengan memasukkan kertas di dalam botol bekas yang akan digunakan sebagai taman di depan sekolah.
PATI - Setelah sukses menjadi sekolah adiwiyata Kabupaten Pati, SMP N 1 Trangkil bersiap menuju adiwiyata Provinsi Jawa Tengah. Menurut keterangan dari Kepala Sekolah, Kuntarso, S.Pd., M.Pd., konsep yang hendak dibawa ke adiwiyata provinsi adalah menggalakkan ecobrick.

Konsep ecobrick yang diterapkan di sekolah ini adalah pendaurulangan sampah botol menjadi bagian dari tanaman. Pembuatan konsep ecobrick di sebuah taman sekolah termasuk konsep yang sangat kompleks, karena memadukan antara sampah dan lingkungan hidup.

Menurut Kuntarso, ecobrick sangat mempunyai peran yang sangat banyak dalam pengurangan sampah sekolah. Selain itu, konsep tersebut dapat mengedukasi siswa untuk secara otomatis memperhatikan sampah plastik dilingkungan sekolah. 

“Sampah botol plastik sangat banyak jika dibandingkan dengan sampah lainnya, hal ini kalau tidak di-counter maka akan sangat berbahaya,” terang Kuntarso.

Selain ecobrick, Kuntarso juga melantik sebanyak 24 siswa duta adiwiyata pada tanggal 3 Februari 2020 kemarin. Menurut keterangan Kuntarso, duta adwiyata tersebut nantinya akan bertugas mengedukasi dirinya sendiri dan kepada teman sebayanya untuk menanamkan nilai-nilai lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. 

“Kalau hanya dari guru, pendekatannya nanti kurang, kalau dari teman mereka sendiri, pendekatannya akan sangat mudah” jelasnya.

Senada dengan Kuntarso, Kasmani selaku pembina Osis SMPN 1 Trangkil  juga berkomentar positif ketika SMP N 1 Trangkil dijadikan sebagai sekolah adiwiyata. 

Menurutnya, nilai-nilai adiwiyata sangat berguna untuk kehidupan di masa mendatang. 

Adiwiyata juga yang dapat mendorong dan mengedukasi siswa untuk mewujudkan kecintaannya terhadap lingkungan. Kasmani sebagai pembina kader adiwiyata juga sangat senang dengan sambutan siswa-siswa dengan konsep adiwiyata di sekolahnya.

“Respon dari siswa sangat positif, bahkan antusias mereka dalam pengolahan sampah menjadi ecobrick sangat luar biasa,” kata Kasmani. 

Edukasi terhadap pengolahan limbah sampah, menurut Kasmani, sangat penting jika ditanamkan dalam diri siswa-siswanya. Hal tersebut dikarenakan nilai yang ditanamkan dalam penggalakan adiwiyata ini adalah untuk masadepan mereka sendiri. 

Nantinya yang akan menikmati jerih payah mereka saat ini di masa depan, juga mereka sendiri.

Gatan Ramadan dan Erinadya Dhea Fibrila, Siswa Kelas VIII yang terpilih sebagai duta adiwiyata, merasa senang. Mereka menyatakan nilai-nilai yang ditanamkan dalam menjadi kader adiwiyata sangat berdampak positif terhadap kehidupan pribadi mereka. 

“Secara otomatis diri sendiri terpanggil untuk merawat lingkungan,” ucap Gatan. 

Sedangkan Dhea, mengatakan bahwa menjadi kader adiwiyata adalah tanggung jawab dan qodrat dia sebagai manusia. 

“Jika melihat sampah berserakan, langsung saja jumput,” tegasnya. 

Dengan menerapkan Konsep ecobrick  diharapkan dapat membawa sekolah SMP N 1 Trangkil menjuarai sekolah adiwiyata tingkat Jawa Tengah. (mail/gus)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »