Koni Kudus Tak Ambil Pusing Terkait Protes Hasil Uji Kompetensi Manajer Persiku

Thursday, February 13, 2020
PROTES: Tulisan bernada protes di pintu masuk VVIP telah ditutup isolatip oleh petugas keberihan Stadion Wergu Wetan Kudus.
KUDUS - Panitia Seleksi (Pansel) Manajer Persiku Kudus 2020 yang terdiri dari Askab PSSI Kudus, KONI Kudus, Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus dan Suporter Persiku, tuntas menggelar proses pemilihan calon manajer Persiku, yang ditutup dengan pelaksanaan uji kompetensi di Gedung Pusat Belajar Guru (PBG) Kudus, Selasa (11/2) lusa kemarin.

Uji kompetensi yang digelar secara tertutup itu berlangsung satu hari, dimulai pukul 08.00 WIB hingga sore hari sekitar pukul 15.00 WIB.

Sedang hasilnya diumumkan pada pukul 16.30 WIB pada hari yang sama, oleh Sekretaris Pansel Manajer Persiku Kudus Syafik Arrosid di halaman PBG Kudus di hadapan sejumlah suporter Macan Muria (SMM).

Adapun hasil uji kompetensi tersebut, Sunarto mendapat nilai terbaik dari ketiga bakal calon lainnya yakni 735 skor. Kemudian rangking kedua diraih Chtistian Rahardianto dengan perolehan poin 715, rangkin ketiga Ardyansyah Purnomo dengan skor 705, dan terakhir Franky Martenda dengan skor 570.

Setelah semua dianggap selesai dan tidak ada persoalan lagi, Pansel dan suporter bertolak dari halaman PBG. Hingga Selasa malam, tidak ada kejadian apa-apa di lokasi uji kompetensi maupun di sekitar kantor KONI Kudus yang dijadikan Sekretariat pemilihan calon Manajer Persiku 2020.  

Namun pada Rabu (13/2) pagi kemarin, petugas kebersihan Stadion Wergu Wetan Kudus Subekhan melihat ada tulisan menggunakan cat semprot di pintu masuk VVIP, yang bernada umpatan, protes dan ujaran kebencian.

Tulisan itu ditujukan kepada KONI yang diduga berkaitan dengan proses seleksi manajer Persiku Kudus 2020, seperti “Persiku Bukan Milik Koni!” “Persiku bukan kendaraan politik” dan ada tulisan lain yang tidak pantas diucapkan.

"Saya melihatnya Rabu pagi saat mau masuk stadion sekitar pukul 05.00 WIB. Selasa sore sampai malam tidak ada apa-apa,’’ jelas Subekhan saat ditemui di Stadion Wergu Wetan Kudus, Kamis (13/2).

Karena ada tulisan yang tidak pantas, Subekhan menutup tulisan yang berada di pintu masuk VVIP itu dengan solatip besar berwarna cokelat pada Rabu (12/2) sore setelah di foto anggota Polisi.

"Tulisan ini saya tutup atas arahan anggota Polisi karena tidak pantas untuk dibaca. Terutama untuk anak-anak saat lewat sini,’’ ujarnya.

Terpisah, Ketua KONI Kudus, Antoni Alfin saat dikonfirmasi menanggapi bahwa vandalisme itu dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Tulisan itu juga sebagai bentuk provokasi yang bertujuan untuk memecah belah hubungan KONI Kudus dengan suporter Persiku Kudus dan pihak terkait lainnya.

"Itu dilakukan oleh oknum yang ingin membenturkan kami dengan suporter dan pihak lainnya,’’ kata Antoni di kantor KONI Kudus.

Antoni mengaku tidak ingin mengambil pusing adanya tulisan di tembok pagar stadion Wergu Wetan Kudus itu. Tulisan yang bernada umpatan itu sebelumnya juga ada di tembok pagar kantor KONI, namun sudah dihapus dengan mengecat kembali tembok tersebut pada Rabu siang.

Dia menambahkan, oknum yang mencoret-coret tembok stadion itu tidak mengerti dan hanya sebagai provokator. Hal itu dibuktikan dengan hanya menuliskan KONI, tidak menyebutkan secara spesifik KONI Kudus atau koni yang lain.

"Oknum tersebut juga tidak mengerti. Kata KONI ini (memiliki arti) luas. Tidak hanya di Kudus saja, bisa saja KONI Jawa Tengah atau Pusat,’’ bebernya.

Untuk itu, secara pribadi pihaknya tidak ingin memperpanjang persoalan tersebut atau melaporkan ke pihak berwajib. Kalaupun tulisan itu akan dibawa ke ranah hukum, Antoni mengaku akan berkoordinasi dulu dengan pengurus KONI Kudus untuk menentukan sikap.

"Tapi, karena itu hanya menyebut KONI, bisa saja nanti KONI Jateng, Pusat atau dari daerah lain yang melaporkan vandalisme itu. Kalau secara pribadi saya biarkan,’’ pungkasnya. (han/gus)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »