Belasan Bangunan Liar Dibongkar

Tuesday, February 11, 2020
BONGKAR: Petugas Balai Besar Wilayah Sungai (BBW) Pemali Juana bongkar 13 bangunan liar yang berdiri di atas tanah seluas 8.000 meter milik pemerintah, di Desa/Kecamatan Kaliwungu Kudus, Selasa (11/2).  
KUDUS - Balai Besar Wilayah Sungai (BBW) Pemali Juana bongkar 13 bangunan liar yang berdiri di atas tanah seluas 8.000 meter milik pemerintah, di Desa/Kecamatan Kaliwungu Kudus, Selasa (11/2) siang.

Koordinator Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) BBWS Pemali Juana, Muhammad menjelaskan, sebelum dilakukan pembongkaran, penghuni bangunan tersebut sudah diberi teguran sebanyak tiga kali sejak September 2019.

"Di dalam surat tersebut disebutkan penghuni bangunan liar ini diminta untuk membongkar sendiri,’’ kata Muhammad saat dikonfirmsi kemarin di lokasi pembongkaran.

Namun, lanjutnya, ada satu bangunan liar yang sampai batas waktu yang ditentukan tidak kunjung dibongkar, malah dibuat untuk jualan es kelapa muda dan jajanan lainnya.

"Lainnya sudah dilakukan pembongkaran sendiri oleh penghuninya. Yang satu ini tidak segera dibongkar kami bantu hari ini,’’ ungkapnya.

Pihaknya menjelaskan, bangunan liar tersebut awalnya dihuni oleh pegawai pada dinas pengairan PUPR Provinsi sejak 1980-an silam, dengan kondisi bangunan semi permanen. Seiring berjalannya waktu, bangunan tersebut diubah menjadi permanen dan diwariskan oleh keturunannya.

Kondisi demikian, katanya, diketahui oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Provinsi Jateng. Kemudian dari BPK meminta instansi terkait untuk mengembalikan aset itu kepada Negara.

"Sesuai rencana, nanti kami kembalikan untuk pemanfaatan selanjutnya,’’ paparnya.

Muhammad menegaskan, BBWS Pemali Juana akan terus melakukan penertiban bangunan liar yang berdiri di atas tanah milik Negara, bersama dengan tim Satpol PP Provinsi Jateng dan Pemerintah Daerah (Pemda) serta stake holder lainnya.

Karena secara aturan, katanya, perseorangan yang ingin memanfaatkan lahan milik pemerintah harus mengantongi izin dari instansi terkait.

"Rencananya, besok juga (red_ hari ini ) kami akan melakukan sosialisasi ke warga yang tinggal di komplek Waduk Tempuran Kabupaten Blora,’’ imbuhnya.

Sementara pemilik bangunan, ‎Muh Ansori, mengaku rela jika rumah yang ditempati bersama keluarganya sejak 1988 itu dibongkar. Sebelum dilakukan pembongkaran, dia juga mengaku sudah pernah mendapat surat terguran.

‘’Ya tidak apa-apa dibongkar, saya terima saja. Ini juga sudah saya bongkar secara bertahap,’’ ujar Ansori.

Dia pun mengakui, petak tanah yang dibuat rumah itu milik dinas pengairan PUPR Provinsi Jateng. Awalnya, dia sudah mendapat izin namun atas nama istrinya Jumiatun karena dirinya merupakan pegawai dinas pengairan.

Menurut Ansori bangunan yang ditemp-atinya dulunya berupa semi permanen, karena khawatir roboh, Ansori kemudian membangun rumah itu menjadi permanen.

‘’Memang izinnya dulu itu semi permanen. Makanya, kalau sekarang dibongkar tidak apa-apa. Silahkan saja. Saya sudah ikhlas,’’ pungkasnya. (han/gus)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »