Ajak Warga Bermedsos yang Sehat

Tuesday, November 26, 2019
INTERAKTIF: Ratusan pegiat media sosial mengikuti sarasehan Medsos Sehat, Rembang Bermartabat yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) bersama Kepolisian Resor Rembang.
REMBANG - Sebagian kalangan sering menganggap antara pemberitaan pers dengan media sosial (medsos) sama. Padahal keduanya memiliki banyak perbedaan.

Demikian disampaikan Ketua Persatuan wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rembang, Musyafa pada kegiatan Sarasehan bertajuk Medsos Sehat, Rembang Bermartabat di Gedung Balai Kartini, Senin (26/11) malam.

Jika pers memiliki produk bernama berita, kata Musyafa, sedangkan medsos berupa informasi. Pers diatur oleh kode etik jurnalistik, sedangkan medsos belum memiliki ikatan baku. Meski demikian, antara pers dengan media sosial memiliki keterikatan yang kuat, untuk sama-sama memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Perbedaan berikutnya pers digarap oleh wartawan yang memiliki kompetensi, sedangkan medsos bisa dikerjakan oleh siapa saja. Pers mempunyai identitas dan alamat yang jelas, sedangkan medsos bisa saja akunnya dipalsukan. Meski berbeda, namun peran pers dan medsos dapat bekerja sama, untuk saling melengkapi, “ ujarnya.

Sarasehan ini merupakan kerja sama Kepolisian Resor Rembang dan PWI Rembang. Hadir dalam kegiatan tersebut hampir 300 orang yang kebanyakan merupakan pelaku media sosial.

Kapolres Rembang, AKBP Dolly A. Primanto ketika memberikan paparan menyatakan kebebasan berpendapat tidak serta merta dapat diartikan tanpa konsekuensi. Apalagi dengan perilaku pengguna medsos saat ini, yang sedikit-sedikit memfoto dan video, kemudian langsung dishare tanpa disaring terlebih dahulu. 

Kapolres mengingatkan kepada semua pihak untuk menghindari ujaran kebencian, apalagi provokasi mengandung suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

“Kalau kita angkat kasus Papua, sempat muncul masalah SARA di sini, beberapa waktu lalu. Jangan karena kebebasan berpendapat, bebas berekspresi, kita kemudian terjerumus pada ujaran kebencian mengandung SARA,“ ungkap Kapolres.

Dirinya menambahkan, tindak pidana cyber yang dilaporkan ke Polres Rembang, dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2017 hanya 5 kasus, kemudian meningkat menjadi 14 kasus di tahun 2018 dan melonjak hingga 23 kasus selama tahun 2019.

Narasumber lain dari pegiat media sosial, Ahmad Humam menyinggung tentang kasus-kasus pidana yang ditimbulkan dari media sosial. Paling tinggi penipuan penjualan barang secara online.

“Dari data-data ini, tentu kita bisa memetakan kerawanan apa saja dan bagaimana kita mengantisipasi," terangnya. (sov/lis)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »