Menjadi Guru Bersahabat

Sunday, October 13, 2019
Monika Mardiana
MENJADI guru adalah suatu kebanggaan bagi wanita nan bersahaja ini. Ia adalah Monika Mardiana, yang telah mendedikasikan diri menjadi guru sejak 16 tahun silam.

Ia mengaku bangga dan bersyukur menjalani profesi guru yang dapat berbagi pengetahuan dan membimbing anak-anak sebagai generasi bangsa. Baginya, guru adalah sosok tauladan yang harus menjadi panutan yang baik bagi anak didik. Untuk itu ia pun ingin dapat terus belajar mengembangkan diri dan meningkatkan ilmu pengetahuan yang dapat ia terapkan dalam menjalani profesi guru.

Menjadi guru, menurut Kepala TK Kanisius Pati ini bukan sekadar menjalankan tugas profesi mengajar saja. Namun, guru memiliki tanggung jawab yang besar daripada itu. Ia berprinsip, menjadi seorang guru harus bisa menjadi guru yang bersahabat, bermartabat dan berdedikasi.

"Bersahabat itu, pandai memposisisikan diri saat menjalin interaksi dengan para anak didik, dan mampu membawa diri untuk bisa tahu kapan  berperan sebagai guru dan kapan harus berganti menjadi sahabat bagi anak didiknya," ujarnya.

Kemudian bermartabat, yakni bagaimana menurutnya seorang guru bisa menjunjung tinggi nili kemanusiaan, menghormati orang lain seperti halnya menghormati dirinya  sendiri dan berharap orang lain juga menghormati dirinya.

Lanjutnya, baginya menjadi guru juga harus berdedikasi. Sebab,  dedikasi dan prestasi mempunyai  kesatuan yang utuh. Prestasi tanpa dedikasi akan kurang berarti. 

Menjadi guru berdedikasi, katanya harus memberikan karya nyata untuk dunia pendidikan. Karena, guru tidak hanya mengajar di kelas saja, tetapi harus menjadi guru yang luar biasa.

Sejauh ini, dirinya terus berupaya untuk bisa menjalankan tiga prinsip yang disebutnya itu. "Saya berupaya memberikan kemampuan yang saya punya untuk dunia pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini," imbuhnya.

Pada saat ini, dirinya juga telah menulis beberapa buku yang didedikasikan untuk pembelajaran anak. Setidaknya sudah ada tujuh buku yang ber-ISBN (International Standard Book Number).

Selain itu, ada puluhan lagu anak yang diciptakan dan 12 di antaranya juga sudah memiliki Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Lagu-lagu tersebut, sudah digunakan untuk pembelajaran anak usia dini.

Dirinya berharap, apa yang telah dilakukan itu, dapat memberikan wujud nyata terhadap kemajuan dunia pendidikan. Pun demikian, juga bisa memberikan motivasi kepada guru lain untuk bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan.

"Saya dari awal memang sudah mencintai dunia anak. Dari awal 2001, kebetulan saya mengajar anak-anak. Nah, dari situ saya melihat jika anak-anak begitu spesial, begitu berarti bagi saya, karena mereka masih sangat polos, lugu dan mereka memberikan inspirasi bagi saya untuk memberikan sesuatu pada mereka," pungkasnya. (lis)



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »