Lestarikan Tradisi Sedekah Bumi

Wednesday, October 09, 2019
Bambang Gunarjo, Kepala Desa Tumpangkrasak
KUDUS - Tenggelamnya warisan leluhur desa menjadi kegelisan bagi Kepala Desa Tumpangkrasak Bambang Gunarjo. Seperti tradisi sedekah bumi, yang semenjak 50 tahun silam belum pernah dia jumpai mapun tergelar di masyarakat. Padahal, berdasarkan keterangan dari sesepuh desa, tradisi tersebut sebenarnya ada di Desa Tumpangkrasak, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

Hal inilah yang membuat Bambang, sapaan akrabnya, tergerak untuk menelusuri salah satu kekayaan buda desa yang sirna tanpa jejak. Sebab, tradisi sedekah bumi dipikirnya merupakan tradisi yang harus melekat pada masyarakat. Apalagi, warga yang berprofesi sebagai petani tidaklah sedikit  di desa tersebut.

“Saya ingin menghidupkan budaya yang pernah ada. Misalnya, sedekah bumi. Saya tanya orang sepuh, sebenarnya tradisi sedekah bumi di Desa Tumpangkrasak itu memang ada,” katanya.

Terkait dengan tradisi sedekah bumi sendiri, merupakan ritual tradisional masyarakat jawa yang berprofesi sebagai petani. Masyarakat yang menggantungkan hidupnya dan keluarganya dengan memanfaatkan kekayaan alam di bumi akan melangsungkan tradisi tersebut sebagai wujud rasa syukur.

Bahkan, banyak yang beranggapan bahwa sedekah bumi tidak dipisahkan dari budaya Jawa. Karena tradisi ini merupakan simbol penghormatan manusia terhadap tanah yang menjadi sumber kehidupan dari manusia itu sendiri.

Pada pelaksanaannya, masyarakat akan berkumpul untuk merayakannya secara bersama. Yang paling identik pada kegiatan ini adalah nasi tumpeng dan doa-doa selamatan dari sesepuh adat. Sebagian besar ada yang mengepung nasi tumpeng tersebut di tempat. Ada juga yang mebawanya pulang untuk dimakan bersama keluarganya masing-masing.

“Budaya semacam sedekah bumi memang sangat dengan Masyarakat Jawa. Sehingga, saya ingin menggali potensi budaya tersebut agar muncul di Desa Tumpangkrasak,” ujarnya. (mii/lis)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »