Warga Nelayan Banyutowo Gelar Kenduri dan Larung Sesajen

Sunday, March 10, 2019
SAJEN : Prosesi larung sesaji oleh para nelayan di Kecamatan Banyutowo, sebagai simbolis untuk membuang hal buruk atau sial.




PATI- Warga nelayan di Kecamatan Banyutowo, Kabupaten Pati menggelar doa bersama dan melakukan ritual buang sesaji ditengah laut. 

Ritual kenduren dan buang sesaji itu dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur para nelayan atas rejeki yang mereka dapat. Selain itu kegiatan bertajuk  Umbul Donga Larung Sukerto itu untuk berdoa atas kesalamatan bangsa.

Dengan menggunakan pakaian tradisional warga berkumpul di tempat pelalangan ikan (TPI) di Desa Banyutowo, Sabtu siang (9/3). Selain sesaji warga juga menyiapkan puluhan tumpeng merah putih,  kesenian tari tayub sebagai tradisi leluhur juga terut dihadirkan dalam kegaiatan kemarin. 

Setelah didoakan bersama sesaji berupa sepasang kembang mayang dan dua ekor bebek kemudian dibawa ketengah laut untuk dilarung

Ipong Ismunarto, Ketua Panitia kegiatan mengatakan bahwa agenda ini merupakan upaya sadar akan kecintaan pada negeri.

“Kami warga Pati, terinspirasi dengan apa yang dilakukan oleh warga Solo melalui Doa Anak Negeri minggu lalu. Kami memiliki kegelisahan yang sama dengan saudara-saudara kami di Solo Raya. Doa Anak Negeri di Solo telah membagunkan kesadaran kami, kami memiliki tanggungjawab yang sama untuk menyelamatkan bangsa. Maka kini, kami berkumpul dan bersatu, menyatakan tekad kami untuk terus Merawat NKRI dan Menjaga Indonesia. Memanjatkan doa memohon keselamatan negeri,” kata Ipong Ismunarto.

Masih menurut Ipong, Umbul Donga Larung Sukerto. Seyogyanya merupakan tradisi turun temurun utamanya berkaitan dengan syukuran nelayan akan berkah hasil laut dari Yang Maha Kuasa. Namun kali ini dimaknai lebih sebagai sebuah perwujudan tekad masyarakat Pati yang tak ingin anak bangsa terkotak-kotak karena perbedaan.

“Larung Sukerto adalah simbol untuk melarung atau membuang hal negatif atau tindak tanduk yang mengancam bangsa Indonesia. Tumpeng merah putih akan menjadi simbol semangat kami, simbol kecintaan kami pada NKRI. Maksudnya Umbung Donga (memanjatkan doa) agar Indonesia tetap aman tidak tercerai berai. Sementara kembar mayang dan dua ekor bebek adalah perlambang bahwa bebek bisa survive dimana saja termasuk diatas gelombang,” kata Ipong menjelaskan.

Pada pelaksanaannya lima perahu nelayan dikerahkan melarung ke laut sejauh kurang lebih satu kilometer dari bibir pantai. Selain rangkaian acara tersebut, ada juga kembul tumpeng. Panitia menyediakan sebanyak 25 tumpeng, dengan nasi merah putih. Perlambang keindonesiaan.

”Ya intinya ini adalah tolak-balak. Di tengah kondisi bangsa yang semacam ini, semoga kebhinekaan sebagai ciri bangsa Indonesia bisa tetap survive mengarungi perjalanan hidup. Semoga menginspirasi di tempat lain. Karena inilah saatnya menyatukan kembali kepingan-kepingan kerukunan. Merangkainya menjadi satu fragmen kehidupan yang menegaskan bahwa bangsa ini berbeda namun memiliki sisi harmonisasi kehidupan. Demi masa depan anak cucu,” pungkasnya.(mel)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »