Anak Penderita Hidrosefalus Butuh Perhatian

Tuesday, January 15, 2019
PEDULI: Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kudus Rina Budi Ariyani didampingi Istri Wabup Kudus Mawar Hartopo (tengah), saat mengunjungi Zaky Firzatullah (11) anak penderita hydrosefalus warga Desa Honggosoco Kecamatan Jekulo kemarin. FOTO: BURHANUDDIN FIRDAUS/JATENG POS

INFOJATENGPOS/KUDUS – Dua rumah warga Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus, Selasa (15/1) pagi kemarin, didatangi rombongan yang terdiri dari Tim Penggerak PKK, Dinas Sosial P3AP2KB dan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus. Tujuannya, untuk melihat perkembangan kesehatan dua anak penderita hidrosefalus, dan guna memastikan sudah mendapat perhatian dari Pemkab Kudus melalui instansi terkait.  

Ketua Tim Penggerak PKK Kudus Rina Budi Ariyani mengatakan, kedatangannya ke rumah M Ulil Albab (4) adalah sebagai bentuk kepedulian Pemkab Kudus terhadap warganya. Setelah melihat kondisi anak kedua dari pasangan suami-istri Ngasimin (30) dan Mariyatul Qibtiyah (30) warga RT 7 RW 2 Desa Honggsoco. Dia menyempatkan diri berkomunikasi dan memberikan semangat kepada kedua orang tuanya.

"Insya Allah menjadi ladang ibadah bagi bapak ibu (Ngasimin dan Mariyatul Qibtiyah), ini sebagai ujian di dunia. Jenengan berdua pasti lulus," ucap Rina kepada kedua orang tua Ulil Albab.

Ditemui usai menyerahkan santunan, Rina mengaku akan segera melaporkan kepada Bupati Kudus hasil kunjungannya Selasa pagi kemarin. Pihaknya juga meminta kepada Dinas Sosial P3AP2KB dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, untuk membantu keluarga penderita hidrosefalus,

"Dinsos saya minta membantu, utamanya tentang bantuan sosial. Kemudian, untuk Dinkes, terkait pelayanan akses kesehatan di Kudus. Kalau perlu dibantu sampai RS. Kariadi Semarang," pintanya.
Sementara itu, Ngasimin, penyakit yang diderita Ulil Albab, kemungkinan disebabkan terjatuhnya sang ibu saat usia kandungan 8 bulan. Saat terjatuh, posisi sang ibu tengkurap. Sehingga Dia menduga terjadi infeksi, yang menjadi pemicu kelainan di dalam kandungan.  Degan terpaksa, proses kelahirannya menggunakan cara sesar.

“Sudah Sembilan kali dioperasi di RSUP Kariadi Semarang. Namun hingga saat ini, kondisinya tak kunjung membaik,” katantya.

Saat diajak komunikasi, lanjutnya,  responnya juga berkurang. Pihaknya pun sudah pasrah dengan kondisi yang dialami anak tercintanya tersebut,"Saya hanya bisa berdoa. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada Ibu Tamzil, yang sudah perhatian dengan kami," kata Ngasimin dengan raut wajah sedih.  

Ditempat terpisah, Zaky Firzatullah (11) anak pertama dari pasangan suami-istri Siswanto (35) dan Alfiah warga RT 4 RW 2 juga mengalami kondisi serupa. Namun masih bisa diajak komunikasi, meskipun tidak terlalu lancar. Menurut Legiman (50) kakek Zaky, pertama kali diketahui mengidap penyakit hydrosefalus pada usia 4 bulan.

“Pertama kali hanya terlihat benjolan di kepalanya, saat usia 4 bulan,” kata Legiman.
Setelah menginjak usia 3 tahun, lanjutnya, baru ketahuan kalau cucunya tersebut menghidap penyakit hydrosefalus dan langsung dilakukan penindakan pertama di RSUP Kariadi Semarang. Setelah itu, tidak ada lagi tindakan, karena terbentur dengan biaya operasi.

Dijelaskan, ayah dari Zakky yakni Siswa hanya seorang buruh bangunan di Jepara, sedangkan ibunya sudah meninggal dunia selah 40 hari setelah kelahiran adik kembarnya yaitu Vina dan Vani Damayanti. Saat ini, adik kembarnya tersebut sudah sekolah TK besar di Desa setempat.

“Setiap hari saya dan neneknya (Kusrini) secara bergantian mengasuh Zakky. Ayahnya seminggu sekali pulang ke rumah,” jelasnya. (han)


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »